Kakek kami yang berbulan-bulan raib, ternyata diyakini oleh kaum
supranaturalis sebagai orang yang tidak mati, tapi hidup sebagai
manusia umum pun, tidak lagi. Lha, jadi apa kakek kami? Alkisah, kakek
kami diyakini oleh para praktisi supramistik sedang berada di alam
megamaya yang hidup di tengah-tengah Ayunan Rahman, alam siluman yang
tak pernah tersentuh oleh dunia logika dan akal sehat. Tapi kami
cucu-cucunya, tetap menghargai dan menghormati kakek dengan rajin
mengirim doa dan merasakannya telah menjadi almarhum.
Tapi di
luar dugaan, sungguh suatu hal yang mengejutkan kami, di mana pada
suatu hari, kakek kami tiba-tiba pulang dengan wujud yang lain. Bapak
dari ibu ku itu tiba-tiba menjadi buaya berkepala putih. Lalu, kakek
secara rutin muncul pada setiap bulan purnama ke 14. Saat itu lah
kakek kami, Haji Fadlan Hanani, 75, berubah wujud dalam bentuk buaya
berkepala putih. Orang-orang Bandar Kepayang, kampung kami, menyebut
kakek kami ini sebagai Siluman Buaya Berpeci Haji, atau sebutan Uwak
Haji Kepala Putih bahkan ada juga yang memanggilnya Si Mbah Mahakam,
penguasa sungai yang ditakuti dan disegani oleh bangsa buaya air tawar
Sungai Mahakam. Kakek ku yang kupanggil dengan sebutan Gede Anang,
memang penguasa tunggal ilmu buaya putih dan menjadi raja diraja kaum
jin Kalimantan Timur.
Ketika aku meraih gelar sarjana dan jadi
guru SMP Ksatria Tenggarong tahun 1999 lalu, di luar dugaan, aku justru
diminta kakek untuk meneruskan ilmu buaya kakek ku itu. Walau di luar
keinginkan kami semua, karena aku yang satu-satunya cucu perempuan,
terpilih untuk menjadi pewaris tunggal ilmu buaya berkepala putih
se-Kalimantan Timur. Aku dan keluarga pun menjadi sangat bingung.
Ditolak salah, diterima pun salah.
Kalau cerita nabi Sulaiman AS
yang punya karomah dapat bicara dengan ratusan jenis hewan, ternyata
demikian pula halnya dengan apa yang dialami oleh kakek kami, Haji
Fadlan Hanani, yang mampu berdialog dengan buaya-buaya penghuni Sungai
Mahakam. Kalau Nabi Allah Sulaiman mampu berdialog dengan ragam jenis
hewan dan mampu memberdayakan kekuatan ribuan jin, tapi kakek kami hanya
terbatas di lingkungan kecil, yaitu di dunia hewan khusus, yaitu hewan
melata jenis alligator, yaitu buaya Kalimantan. Bahkan buaya-buaya
Kalimantan itu mampu ditundukkan dan sangat takut kepada kakek kami.
Apabila diperintahkan untuk pergi, maka semua buaya akan pegi dari suatu
tempat. Bila diperintahkan untuk datang, maka semua buaya-buaya itu
akan datang dan menghormat kepada kakek kami. Begitu lah kelebihan dari
ilmu yang kakek kami miliki, yang biasa kami panggil Gede Anang. Kakek
kami adalah seseorang yang berciri fisik kurus, jangkung, rambut
panjang, berkumis dan berjenggot putih setengah meter.
Arus
Sungai Mahakam tak pernah kering sepanjang tahun. Air sungai terbesar
dan tepanjang di Indonesia ini selalu mengalir deras dan mengeluarkan
nyanyian khas, bagaikan sonata alam dengan melodi mengharubiru, sebagai
cirri khas nya suara arus arus air sungai yang ritmik saat ditiup oleh
kekuatan angina yang megabesar.
Di atas sungai inilah aku
dilahirkan oleh ibuku, yaitu pada tanggal 5 April tahun 1969. Sebagai
anak keluarga yang tidak mampu, aku lahir melalui tangan seorang dukun
beranak, Ambik Kina, seseorang dari suku Dayak Ngaju. Di sini pula aku
dibesarkan oleh ayah dan ibuku dalam kehidupan yang serba
keterbatasannya. Rumah kami adalah rumah panggung dari kayu ulin yang
bertiang delapan meter yang ditancapkan di atas aliran sungai yang
selalu mengalir deras ke hulu lalu menembus laut Selat Makasar. Di
sebelah rumah kami, adalah rumah kakek dan nenek, yang kurasakan sebagai
rumah ku juga, sebab aku dan kakak-kakakku sering juga tidur dan makan
di rumah nenek dan kakek. Nenek selalu memanggang ikan patin dan lais
yang didapatkan kakek dari kehidupan arus air Sungai Mahakam.
Semasa keberadaannya di tengah kami, selain menjadi “orang pintar” alias
paranormal yang handal dalam pengobatan ragam penyakit, kakek juga
punya bekerjaan khusus sebagai nelayan Sungai Mahakam. Bahkan sering
pula berminggu-minggu pergi ke laut, mencari ikan di Selat Makasar.
Kakek ku memiliki sebuah perahu kecil ukuran panjang hanya lima meter
dan lebar satu meter. Bila melaut, kakek pergi melaut di tengah malam,
lalu pulang pagi sekiat jam sembilan dan membawa ikan yang sangat
banyak. Ikan-ikan yang banyak itu dijual kakek ke pasar ikan Manggar di
Tenggarong dan Pasar Ikan Samarinda. Sebelum menjual ikan-ikan itu,
kakek terlebih dulu memberi ikan-ikan yang banyak kepada kami. Meman
sebagai penduduk di atas sungai, makanan kami yang utama adalah
ikan-ikanan. Nasi justru menjadi menu kedua, sebagai lauk pauk nya.
Pada saat aku masih kecil, aku tidak banyak tahu tentang ilmu kakek
yang sangat besar di bidang supranatural dan dihormati banyak penduduk
di Tenggarong itu. Namun setelah aku dewasa, di mana aku banyak diberi
tahu oleh para tetangga, bahwa kekekku yang sederhana, ternyata punya
ilmu yang tinggi dalam hal supranatural, barulah aku banyak menyelidik
dan penasaran ingin mengetahui inti karomah ilmunya itu. Hingga
akhirnya, aku sampai memaksa kakek untuk mengajakku melaut, mencari ikan
di Sungai Mahakam hingga ke Selat Makasar. Sejak itulah, barulah aku
tahu bahwa kakekku mempunyai teman-teman buaya yang banyak, yang
dimanfaatkannya untuk mengambil ikan-ikan buat kehidupan kakek. Mulanya
aku terkaget-kaget melihat buaya-buaya teman kakek yang berjumlah
ratusan mengambang di permukaan air, tapi lama kelamaan, akhirnya aku
menjadi biasa saja dan justru buaya-buaya itu sangat baik kepadaku.
Semua nelayan sekitar kampung Bandar Kepayang, kampung kami, tahu betul
bahwa kakek kami memiliki ilmu saktimandraguna dalam hal menaklukkan
buaya. Mereka juga dibagi sedikit ilmu agar gampang mendapatkan
tangkapan ikan oleh kakekku. Lalu buaya-buaya itu memberi persembahan
ikan-ikan pula pada orang banyak , para murid-murid kakek, ratusan
nelayan Kampung Bandar Kepayang. Selain menjadi nelayan profesional,
kakek kami juga disebut oleh para tetangga adalah pengobat ampuh untuk
beberapa penyakit. Terutama penyakit yang selalu menyerang bayi dan
anak-anak. Bila anak-anak menderita demam panas, suhu panas tubuh yang
sangat tinggi, maka kakekku cukup mengoleskan air putih jampi-jampi ke
perut Si Anak, lalu anak itupun akan sembuh total. Suhu panas dengan
cepat turun dan Si Anak pun menjadi sehat dalam hitungan menit. Yang
lebih mengagumkan, kakek kami juga bisa menemukan dan menyelamatkan
orang-orang yang hilang misterius. Baik sengaj kabur dari rumah atau
justru hilang karena disembunyikan oleh mahluk halus. Yang lebih pakar,
kakekku mampu menyembuhkan para korban-korban serangan buaya
se-Kalimantan Timur. Buaya yang sudah terlanjur memakan manusia, akan
dihukum oleh kakek kami. Buaya yang memakan manusia, biasanya muncul
perasaan bersalah pada buaya itu, lalu dia datang dengan airmatanya,
menyerahkan diri kepada kakek, lalu buaya itu mati dengan sendirinya di
depan kakek. Hal itu aku alamai sendiri saat aku diajak kakek pergi ke
Sangata, di mana ada buaya superbesar memangsa dua anak remaja sekaligus
di tepi laut Sangata, bibir barat Selat Makasar yang luas.
Apa
yang kusaksikan kala itu, apa yang telah kulihat saat itu, di situlah
aku baru mengagumi betapa hebatnya kakekku. Sekaligus juga, saat itu aku
makin menyadari bahwa betapa besarnya kasih sayang Allah pada
ummat-Nya, terutama pada kakekku, seorang laki-laki miskin yang diberi
karuniah luar biasa besar, terutama dalam hal ilmu menjinakkan
keperkasaan buaya-buaya besar. Allah telah memberikan kemurahan
rahmat-Nya kepada orang kecil bertubuh renta dan kurus yang kebetulan
kakek kandungku, ayah kandung dari ibuku tercinta. Kakek yang kebetulan
pula adalah seorang warga nelayan miskin yang kerempeng dan tua,
tiba-tiba diberi suatu ilmu yang luar biasa dahsyatnya oleh Allah Azza
Wajalla. Kakekku yang disebut pula oleh kiyai-kiyai setempat sebagai
seorang pengamal Ilmu Ma’rifat dan dari dasar ilmu Allah itulah kakekku
mendapatkan berkah dan karomah yang maha mulia. Allah telah memberikan
kelebihan-kelebihan yang kelak dijadikan kakek sebagai senjata bersosial
dalam membantu sesame. Ilmu penakluk buaya sebesar dan sekokoh
apapun, telah dipertontonkan secara tidak sengaja oleh kakekku di depan
banyak orang dan semua warga yang menyaksikan kenyataan itu, memberi
tabik dan respek kepada kakekku yang sangat sederhana dengan
keseringannya merendah. Di situ dengan mata kepala sendiri aku
menyaksikan kakek memanggil buaya superbesar berat satu ton yang memakan
dua anak kecil menyerahkan diri di bibir Selat Makasar. Buaya besar itu
mengaku salah dan menyesal telah memakan manusia, sementara memakan
manusia adalah hal yang sangat ditabukan karena manusia sebagai mahluk
yang sempurna di muka bumi ini.
Cerita kakekku, di kalangan
bangsa buaya, memakan manusia adalah hal yang paling dipantangkan. Buaya
boleh saja lapar karena sedang tidak ada makanan. Tapi bila memakan
manusia, buaya itu akan kuwalat dan hukumnya adalah mati. Maka itu buaya
yang telah makan dua anak tadi, kata kakek, telah melaksanakan eksekusi
hukumnya, yaitu mati dengan tancapan jari telunjuk kakek ini ke kepala
otaknya. Dia telah menerima perbuatannya yang salah dan telah mengakui
kesalahan dan dosanya yang besar itu. Lalu, buya itu secara konsekuen
telah menerima hukumannya dengan ikhlas. “Dia telah mati secara sportif
setelah dia mengakui semua kesalahan dan dosanya setelah memakan
manusia!” desis Kakek. Memang buaya besar itu memasrahkan diri untuk
dimatikan, lalu setelah mati buaya itu diangkat warga ke daratan dan dua
bocah korban di perut buaya, lalu dikeluarkan dan dimakamkan secara
layak. Pemandangan yang kulihat betapa mengerikan, karena tubuh dua
bocah sudah terpotong-potong, kaki telepas, tangan terlepas dan kepala
pun terlepas dari batang leher. “Buaya itu buaya biadab dan kakek telah
mewanti-wanti kepada selruh buaya dio Kalimantan Timur ini agar tidak
lagi memangsa manusia!” imbuh Kakek.
Setelah menangani kasus
buaya pemakan orang di Sangata, belakangan kakek ku tiba-tiba
menghilang. Nenek dan ibuku beserta anak-anak dan cucu Kakek yang lain,
panik setelah selama dua bulan kakek kami tidak pulang. Mulanya kami
semua mengira kakek melaut untuk berburu ikan di sepanjang Sungai
Mahakam dan Selat Makasar, tapi lama kelamaan, setelah dua bulan tidak
pulang, sadarlah kami bahwa kakek kami itu meninggal dunia. “Kakek
mungkin tenggelam di laut dan sudah saatnya umur kehidupannya berakhir!”
lirih Nenek, sambil menghapus airmatanya yang jatuh di pipinya yang
keriput.
Kami semua berusaha menemukan jenazah kakek di
sepanjang Sungai Mahakam. Kami menyewa kapal tongkang besar bersama
polisi polsek setempat untuk menemukan di mana kiranya jasad kakek kami
berada. Setelah berhari-hari menyusuri sungai, kami lalu menyeberang ke
laut lepas, kami juga mencari hingga ke Bontang dan Tarakan. Tapi jasad
kakek kami tidak ditemukan juga. Maka itu, setelah 30 hari melakukan
pencarian dan tidak menemukan, akhirnya keluarga memutuskan, pasrah
bahwa kakek kami dinyatakan raib. Bahkan kami telah membuat tahlilan,
karena yakin bahwa kakek meninggal di tengah laut, yang mungkin saja
jasadnya dimakan ikan hiu di Selat Makasar.
Setelah beberapa lama
tanpa berita dan kami pasrah bahwa kakek kami sudah wafat, tiba-tiba
saat bulan purnama ke 14, ada seekor buaya berkepala putih sandar di
bawah rumah kami di Bandar Kepayang sekitar pukul 23.00 waktu Indonesia
bagian tengah. Ayah dan ibuku segera mengambil lampu tameng dan
menyorot buaya besar yang ternyata berkepala warna putih, mirip topi
seorang haji. Buaya itu disuruh pergi oleh ayahku dengan tongkat bambu.
Tapi buaya itu tidak mau pergi dan tidak begeming sedikit pun. Kepalanya
di angkat di atas permukaan air di kolong rumah kami dan dari matanya
menunjukkan bahwa buaya itu bukan buaya biasa. Sebab dari kelopak
matanya yang berwarna kuning, menggenang air kebiru-biruan yang
dikatakan oleh banyak orang Kalimantan bahwa air biru itu adalah airmata
buaya. “Buaya ini menangis dan merasakan kesedihan yang dalam. Buaya
ini pasti bukanlah buaya biasa dan pasti ada hubungannya dengan keluarga
kita!” kata Ayahku, yang disambut anggukan kepala oleh ibuku.
Setelah kami uji dengan pakaian kesukaan kakek semasa hidup, tiba-tiba
buaya itu mengambil pakaian dan memakainya. Padahal pakaian kakek itu
tadinya ditujukan ayahku untuk menyuruh pergi Si Buaya. Setelah memakai
pakaian dengan caranya, buaya itu mendekat kepada ibu dan aku, lalu
kuusap bagian kepalanya dan buaya itu mengeluarkan suara seperti
manusia. Suara yang keluar, walau tidak begitu jelas, tapi jenis suara
yang keluar dari mulut buaya itu, persis sekali dengan suara kakek.
Bahkan saat terbatuk, bunyi batuk itu 100 persen suara batuknya kakekku.
Beberapa kiyai yang kami undang, yakin betul bahwa Buaya Kepala Putih
itu adalah buaya siluman, perwujudan dari kakek kami yang raib beberapa
waktu lalu. Kakek kami itu diyakini tidak mati, tapi muksa, menghilang
meraibkan dirinya lalu menjadi raja di tengah buaya-buaya Sungai
Mahakam. Kata kiyai, atas ijin Allah, kakek kami belum meninggal
sesungguhnya, tapi raib dan masuk ke alam buaya dan hidup di tengah
bangsa jin air di Sungai Mahakam. Karena ilmu saktimandragunannya serta
perjanjjian gaib yang pernah disepakati, maka sebelum wafat, kakek kami
itu terlebih dahulu menjadi siluman buaya dan hadir ke keluarga pada
setiap purnama ke 14. Kenapa para purnama 14 baru muncul? Sebab untuk
semua bnagsa siluman, termasuk buaya, akan bisa berwujud dan menemui
manusia yang hidup saat ternag bulan. Bulan telah menyinari dan
memberikan energi besar bagi mahluk gaib dan setengah gaib untuk maujud
dan menampakkan diri. Bulan ke 14 adalah rahasia yang belum terungkap
hingga kini, di mana sinar bulan yang sedang terangbenderang mampu
menghidupkan mahluk yang mati dan mampu mewujudkan mahluk halus menjadi
nyata. Kuntilanak dan drakula pun, akan maujud saat bulan purnama
terangbenderang di hari ke 14 pada setiap bulan.
Hingga kini
kakek kami terus muncul setiap bulan pada saat purnama terang benderang.
Kami selalu bersama bahkan buaya putih perwujudan kakek itu bisa masuk
ke dalam rumah bersama kami. Bila menjelang subuh, kakek turun ke sungai
dan raib kembali ke habitan gaibnya di tengah Sungai Mahakam. Kerinduan
ku kepada kakek, akan selalu datang menggebu-gebu karena kakek muncul
hanya satu kali dalam sebulan dan berlangsung hanya beberapa jam saja.
Buaya berkepala putih yang kami yakini semua bahwa itu adalah kakek
kami, tiba-tiba menjadi begitu dekat dan kami semua merasa bahwa itulah
kakek kami yang sejati.
Selama maujudnya kakek dalam bentuk
buaya kepala putih, banyak peristiwa aneh yang keluarga kami alami.
Saat menjadi korban kecelakaan speedboat yang tenggelam di Selat
Makasar, abang misan saya, Bang Hardi dan teman-teman, diselamatkan oleh
buaya berkepala putih dengan digendong sampai ke daratan. Jika tidak
pastilah enam orang pekerja tambang batubara itu, mati di tengah lautan
luas dan sedang bergelombang besar. Buaya kepala putih itu adalah
jelmaan kakek kami, Gede Anang yang sangat kami cintai. Lalu ketika kami
kesulitan biaya, rumah kami penuh ikan yang diantarkan oleh buaya putih
itu dan ikan itu bisa menghasilkan uang banyak setelah dijual ke pasar.
Dari biaya menjual ikan-ikan pula, aku mendapatkan biaya pendidikan
yang cukup, bisa samapi mendapatkan gelar sarjana dan akhirnya menjadi
pengajar SMP Ksatria kota Tenggarong. Berkat bantuan kakek yang terus
menerus memberi ikan yang datang dengan sendirinya di perahu-perahu kami
di kolong rumah, maka kami semua dapat bantuan biaya secara gaib.
Pada saat memberikan ikan-ikan, tidak sekalipun kakek terlihat
bersama ikan-ikan itu. Ikan ikan seakan datang dengan sendirinya
memenuhi perahu-perahu dan jumlah ikan itu begitu banyak. Sebenarnya
kakek yang datang membawa rejekih dari Allah SWT itu, tapi kakek tak
terlihat oleh mata kami yang telanjang. Tapi para muridnya, dapat
melihat kakek dan berinteraksi secara langsung karena kemampuan ilmu
yang dimiliki yang didapat dari kakek. Kakek akan maujud berbentuk
buaya hanya pada saat bulan purnama ke 14 dan semua keluarga dapat
berkumpul dengannya.
Yang mengejutkan aku belakangan, ternyata
kakek menjatuhkan sampur selendang lumut kepadaku. Arti dari selendang
lumut berwarna hijau itu, adalah bahwa aku dinobatkan dan terpilih
sebagai pewaris utama dari semua ilmu yang kakek miliki semasa hidup.
Bila aku menolak, aku akan menyalahi aturan dari seorang kekek. Siapapun
yang menolak, akan mengecewakan si pemberi, karena ilmu itu sangat
saktimandraguna yang spesial. Sedangkan untuk menerima, aku juga berat,
sebab sebagai wanita dan pengajar, rasanya lucu bila aku mengamalkan
ilmu buaya lalu jadi pimpinan para buaya Sungai Mahakam. Pikirku, apa
kata murid-murid bila mereka mengetahui bahwa ibu gurunya adalah raja
buaya dan separuh hidupnya dihabiskan di tengah habitan buaya
Kalimantan. Walau sekarang aku sudah menyatakan menerima ilmu itu, tapi
dalam otakku terus terngiang, kenapa kakek justru memilih aku,
satu-satunya cucu perempuan, bukan yang lain dari jenis kelamin
laki-laki. Duh Gusti.....!!!!
Selesaiiii........
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Popular Posts
-
1.Apin©17 - Dont Stop The Melody New 2014 Rmx Download : Click here 2.Apin©17 - Labello New 2014 db Download : Click here...
-
Lagu Lagu Single NRC DJ™ • Andy _ Feel This Moment [Gens™]_2 ==> Here NRC DJ™ • Andy -Zaleilah.==> Here 4CyberDJ™ ...
-
Membuat Radio online itu Mudah dan Gratis Ingin punya radio dan bisa didengarkan di seluruh dunia? Gampang. Luangkan waktu 40 menit maka...
-
Kakek kami yang berbulan-bulan raib, ternyata diyakini oleh kaum supranaturalis sebagai orang yang tidak mati, tapi hidup sebagai manus...
-
Desember Hits [Purwa Sedana Cool™] x [R4A] [1] P-DJ™ - Cinta Terbaik db [2] DJ GUGUN - Cinta 1 Kan Kita [3] AjeGile DJ™ Victor -...
-
Wah sekarang saya lagi hepi nih.:D karena apa..?? karena sekarang saya menulis tentang game Yu Gi OH. Game ini salah satu game paling say...
-
Ninja saga EMBLEM hack with cheat engine This is a hack that will show you how to hack emblem but when you are emblem with this hack on...
-
Cara membuat tulisan berjalan - Seperti yang banyak kita temui di acara tv adalah marquee . Disebut demikian karena menggunakan kode html ...
Blog Archive
-
▼
2014
(21)
-
▼
September
(15)
- ★ Kakekku Jadi Siluman Buaya Kepala Putih ★
- Ninja saga EMBLEM hack with cheat engine !!
- Cheat Ninja Saga 2013 pake Cheat Engine
- Cheat PointBlank FullHack 2014 By Sanjaya 153
- SABTU DJ AGUS 2014 08 22 - Sanjaya 153
- SABTU DJ AGUS 2014 08 23 - Sanjaya 153
- JUMAT DJ FREDY 2014 08 22 - Sanjaya 153
- SABTU DJ AGUS 2014 08 30 - Sanjaya 153
- Cara Mendaftar Deejayroom - Disini Ilmunya ~
- Kumpulan Mixtape baru 2014 !!
- Kumpulan Mixtape BARU 2014 !!
- Kumpulan Lagu single Funkot
- Cara Mempercantik dan Menghias BLOG !!
- cara membuat tulisan berjalan ( marquee )
- CARA MEMBUAT BLOG MENJADI KEREN DENGAN EFEK
-
▼
September
(15)
Popular Posts
-
1.Apin©17 - Dont Stop The Melody New 2014 Rmx Download : Click here 2.Apin©17 - Labello New 2014 db Download : Click here...
-
Lagu Lagu Single NRC DJ™ • Andy _ Feel This Moment [Gens™]_2 ==> Here NRC DJ™ • Andy -Zaleilah.==> Here 4CyberDJ™ ...
-
Membuat Radio online itu Mudah dan Gratis Ingin punya radio dan bisa didengarkan di seluruh dunia? Gampang. Luangkan waktu 40 menit maka...
-
Kakek kami yang berbulan-bulan raib, ternyata diyakini oleh kaum supranaturalis sebagai orang yang tidak mati, tapi hidup sebagai manus...
-
Desember Hits [Purwa Sedana Cool™] x [R4A] [1] P-DJ™ - Cinta Terbaik db [2] DJ GUGUN - Cinta 1 Kan Kita [3] AjeGile DJ™ Victor -...
-
Wah sekarang saya lagi hepi nih.:D karena apa..?? karena sekarang saya menulis tentang game Yu Gi OH. Game ini salah satu game paling say...
-
Ninja saga EMBLEM hack with cheat engine This is a hack that will show you how to hack emblem but when you are emblem with this hack on...
-
Cara membuat tulisan berjalan - Seperti yang banyak kita temui di acara tv adalah marquee . Disebut demikian karena menggunakan kode html ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar